Pages

Ads 468x60px

Kamis, 21 Oktober 2010

Misteri Kuala Namu





isah Klenik Pembangunan Bandara Kuala Namu (1)Tempat Bersemayamnya Khodam Ilmu
Oleh : Abdurrahman
SAAT ini kehidupan orang halus di lokasi pembangunan Bandara Kuala Namu lagi terusik. Mereka keberatan pemukimannya dijadikan lapangan luas bak padang pasir. Pekerja dan warga disana juga sering diteror oleh ulah kaum bunian yang merasa terusik.
Bandara Internasional Kuala Namu adalah sebuah bandar udara baru untuk kota Medan. Lokasinya merupakan bekas areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa, terletak di Kuala Namu, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang. Kuala Namu akan menggantikan Bandara Polonia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Saat selesai dibangun, Kuala Namu yang diharapkan dapat menjadi bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatra dan sekitarnya, akan menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta. Pemindahan bandara ke Kuala Namu telah direncanakan sejak tahun 1991. Dalam kunjungan kerja ke Medan, Azwar Anas, Menteri Perhubungan saat itu, berkata bahwa demi keselamatan penerbangan, bandara akan dipindah ke luar kota. Persiapan pembangunan diawali pada tahun 1997, namun krisis moneter yang dimulai pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu kabar mengenai bandara ini jarang terdengar lagi, hingga muncul momentum baru saat terjadi kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada September 2005 yang jatuh sesaat setelah lepas landas dari Polonia. Kecelakaan yang merenggut nyawa Gubernur Sumatra Utara Tengku Rizal Nurdin tersebut juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah bandara meninggal dunia akibat letak bandara yang terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar bandara udara di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai. Recana pembangunan selama bertahun-tahun terhambat masalah pembebasan lahan yang belum terselesaikan. Hingga Juni 2006, baru 1.650 hektar lahan yang telah tidak bermasalah (telah diselesaikan sejak 1994), sementara lahan yang dihuni 71 kepala keluarga lainnya masih sedang dinegosiasikan, namun pada November 2006 dilaporkan bahwa Angkasa Pura II telah menyelesaikan seluruh pembebasan lahan. Pembangunannya direncanakan akan dilaksanakan sepanjang tiga tahap. Tahap I dimulai pada 29 Juni 2006 dan selesai pada tahun 2009 atau paling lambat 2010. Tahap ini dibangun sendiri oleh pemerintah dengan PT. Angkasa Pura II, dengan pembagian berupa sisi darat (misalnya terminal, areal parkir) dibangun Angkasa Pura sementara sisi udara dibangun Direktorat Jenderal Udara dari Departemen Perhubungan. Dana untuk pembangunan Tahap I terdiri dari Rp. 1,3 triliun dari Angkasa Pura dan dana pinjaman sebesar Rp. 2,3 triliun sehingga jumlahnya adalah Rp. 3,6 triliun. Tahap II yang direncanakan dibangun bersama oleh pemerintah dan investor, akan dimulai tahun 2010. Luas terminal penumpang yang akan dibangun adalah sekitar 6,5 hektar dengan fasilitas area komersial seluas 3,5 hektar dan fasilitas kargo seluas 1,3 hektar. Bandara International Kuala Namu memiliki panjang landas pacu 3.750 meter, dan sanggup didarati oleh pesawat berbadan lebar.
//Sering Ada Penampakan Dibalik pembangunan mega proyek ini, ada komunitas gaib yang tak nampak oleh mata kasar manusia sedang menderita. Mereka kocar – kacar karena pemukiman mereka diluluhlantakkan. POSMETRO yang mengunjungi pembangunan bandara ini, kemarin (5/4) memang merasakan pergolakan bangsa bunian tersebut. Hawa panas yang terasa begitu menyengat pori-pori begitu menghujam kulit. Bukan itu saja, angin yang biasanya membawa kesejukan juga ikut-ikutan membawa hawa panas yang luar biasa. Bersama Poniman (50) warga sekitar yang juga memiliki kemampuan Supranatural, kami menelusuri sisi gaib di tempat itu. Menurut pria bercucu dua ini, sejak kecil hingga paruh baya hidupnya memang dihabiskan di tempat itu. Masih penuturan kakek yang juga penganut Tharekat ini, di awal ke 19 M, kakek buyutnya Mandor Gintung sudah mendiami Kuala Namu. Jadi mandor kebun kopra (sebelum diganti jadi kelapa sawit), saat itu bukanlah perkara mudah. Tidak sembarang orang bisa melakukannya. Hanya orang – orang yang memiliki ilmu kesaktianlah yang bisa. Para mandor itu sengaja didatangkan dari tanah Jawa. Jadi kuli kontrak Belanda. Karena di mata orang-orang Belanda, para pekerja dari tanah Jawa merupakan orang yang patuh dan memiliki keistimewaannya sendiri. Ya, kekuatan supranatural. Tiap mandor yang didatangkan dari Jawa hampir dipastikan punya khodam (makhluk gaib penunggu suatu ilmu) masing-masing. Sudah tak terhitung lagi berapa orang mandor yang hidup dan mati ditempat itu. “Di Kuala Namu ini banyak dikubur orang-orang sakti. Sementara khodam ilmunya masih berada disekitar sini,” tutur Ponimin. Setelah sekian lama khodam tersebut mendiamai kawasan ini, mereka pun merasa terusik ketika satu persatu pohon sawit ditebangi untuk pembangunan bandara. Bahkan ada empat nyawa yang sudah melayang karena kesambet. Bagaimana peristiwanya (Bersambung)

//Teks photo : Pohon Preh yang tak bisa ditebang karena ditunggu oleh makhluk gaib. PM/ Abdurrahman
Kisah Klenik Dibalik Pembangunan Bandara Kuala Namu (2)
Misteri Melayangnya Empat Nyawa
Laporan : Abdurrahman – DELI SERDANG
MENYELAMI kehidupan gaib di areal pembangunan Bandara Kuala Namu tak terlepas dari dunia hantu orang Jawa. Tentang penghormatan manusia dengan kehidupan sebangsa dedemit dan roh-roh leluhur.
Poniman, bukanlah orang sembarangan, begitu pria itu di mata saya. Walau tingkahnya terkadang nyeleneh namun apa yang diucapkannya syarat dengan budaya magis Jawa. Tentang berbagai istilah seperti : Dhanyang Merkayangan, Kajiman, Siluman, Bekasakan dan Kebleg. Nama-nama itu adalah berbagai jenis hantu Jawa penunggu wilayah. Peristiwa gaib bandara Kuala Namu dibuka Poniman tentang kematian empat pekerja pembangunan bandara itu. Kematian mereka memang misterius, begitu di mata Poniman. Tanpa ada sebab yang jelas, tiba-tiba jantung mereka berhenti berdetak, begitu juga dengan darah berhenti mengalir. Apa pasal ? Lewat kaca mata mistik Poniman, kematian itu bukanlah suatu kewajaran. Ada kekuatan yang tersembunyi disana. Ya, tentang makhluk-makhluk gaib itu. Karena menurutnya, seperti manusia apabila kediamannya diporak-porandakan, akan tersulut juga emosinya. Pun begitu dengan makhluk-makhluk gaib Kuala Namu. Mereka bingung tak tahu lagi mau kemana bermukim. Pohon-pohon nan rimbun sudah tak ada lagi, hutan-hutan di tempat lain sudah mulai gersang. Sebut saja misalnya di sekitar Bukit Barisan, pesisir Asahan, Langkat dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin, kalau hutan-hutan tersebut sudah ditunggui oleh makhluk gaib yang lebih kuat. Sehingga terjadilah gesekan-gesekan. Sementara para makhluk gaib yang memiliki sifat pendendam akan membalas sebisanya. “Mereka itu mati dibunuh makhluk halus !” kata Poniman pada wartawan koran ini di bawah pohon Preh yang masih berdiri kokoh, tak jauh dari pos polisi. Kematian mereka merupakan wujud balas dendam para danyang (penunggu gaib) tempat tersebut. Selain misteri kematian tersebut, para pekerja disini menurutnya sering diperlihatkan dengan hal-hal aneh. Tentang adanya penampakan kuntilanak yang beterbangan. Dan peristiwa itu terjadi di siang bolong. Tak hanya itu, salah satu bukti kekuatan gaib masih berpengaruh kuat di Bandara Kuala Namu adalah terpacaknya dengan kokoh pohon Preh, bahkan sampai saat ini tidak bisa ditumbangkan oleh dukun mana pun. Dibawah pohon itulah wawancara sableng ini berlangsung. Pohon preh ini adalah salah satu benteng pertahanan makhluk gaib di Kuala Namu. “Pohon Preh ini tempat bersemayamnya para makhluk halus dan ini ditunggui oleh ular siluman,” ujar Poniman kemudian. Bahkan matanya mendelik ke arah saya. Ular gaib tersebut akan terus mempertahankan pohon ini sampai kapan pun, kecuali kalau ada dukun hebat yang bisa bernegosiasi dengannya. “Dulu Mbah Marijan sengaja didatangkan untuk menetralisir kekuatan di tempat ini. Tapi dia tidak berdaya sama sekali,” papar Poniman sambil memandang wartawan koran ini lekat-lekat. Ada banyak orang pintar sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menumbangkan pohon preh itu, tapi hasilnya nihil sama sekali. Kekuatan supranatural mereka tidak mampu melawan benteng gaib para punggawa-punggawa dedemit Kuala Namu. “Khan bisa dilihat, pohon-pohon yang lain sudah ditumbangkan, sementara ini dibiarkan. Karena mereka takut akan terjadi lagi bencana. Sampai saat ini belum ada yang mampu untuk menumbangkan pohon preh ini,” kata Poniman sambil mengelus-ngelus batang pohon preh tersebut. Saya mendengus dalam-dalam. Dalam hati saya berfikir, ternyata zaman sekarang, kepercayaan primitif masih mengakar kuat di hati masyarakat pedalaman. “Kalau mas Mau, saya akan membawa ke pusat kramat bandara Kuala Namu ini. Namanya Kramat Udang ?” katanya pada saya. “Apa ? Kramat Udang ?” jawab saya dengan kening mengernyit. (Bersambung)
Kisah Klenik Dibalik Pembangunan Bandara Kuala Namu (3/ Habis)
Kramat Udang, Siapa Sanggup Memindahkannya ?
Laporan : Abdurrahman – DELI SERDANG
SEMERBAK aroma kembang, seolah jadi tanda selamat datang bagi saya dan Poniman ketika berkunjung ke kramat Udang. Sebuah tempat kramat yang amat kental nuansa mistiknya. Apa gerangan rupanya ?
“Ya Mas, namanya Kramat Udang. Letaknya berada dalam lokasi bandara kuala namu ini,” jawab Poniman pada saya. “Bolehlah kita ke sana Pak, tapi bagaimana caranya ?” “Beres, kita permisi dulu ke security, trus saya akan tunjukkan,” katanya sembari membetulkan lensanya yang kedodoran. Kami beranjak dari pohon preh nan keramat itu. Suzuki Smash kreditan saya meraung diantara lautan debu. Apa boleh buat, truk-truk pengangkut tanah putih berseliweran di jalanan. Tampaknya sosok Poniman tidak asing lagi buat para pekerja disana. Ya, kami dengan mudah bisa melenggok-lenggok memasuki areal pembangunan bandara itu, walaupun beberapa pasang mata dengan tajam menatap kami. Tapi apa boleh buat. Nama kramat udang menjelma jadi magnit di batin saya. Batang leher terasa amat kemarau begitu mengarungi lapangan luas. Sementara Poniman masih asyik mengoceh di boncengan. Tentang kesibukannya jadi tim sukses salah seorang calon gubernur. Tentang kehidupannya. Tentang keuletannya menggali ilmu kebatinan. Tentang segala tentang pokoknya. “Jauh lagi pak,” Tanya saya setengah menyeringai. “Sebentar lagi,” katanya dengan tubuh gemetar. Kami terus membelah panas di pembangunan bandara kuala namu itu. Entah mengapa, sesaat kemudian saya merasakan keanehan terjadi. Jantung berdebar-debar, tak karuan. Bagaimana bentuk kramat udang itu ? udang bergantung kah ? udang menari-nari kah ? entahlah. Di tengah kerisauan itu, lelaki tua yang saya bonceng sempat membuat jengkel. Ternyata, letak kramat udang itu dia sendiri pun ingat-ingat lupa. Ia sempat Tanya pada orang yang kebetulan berpapasan. “Tapi Bapak orang sini, kok bisa lupa,” tanya saya keheranan. “Walah sekarang khan sudah diobrak-abrik. Dulu ini banyak pohonnya. Sekarang bisa dilihat sendiri khan ?,” tanyanya dengan suara agak tinggi. Setengah jam kemudian kami sampai di perkampungan penduduk. Ia pun bertanya lagi dimana letak kramat udang. Mereka pun terlibat percakapan dengan dialog Jawa begitu medok. Dan ia pun memperkenalkan saya pada beberapa pria di tempat itu. “Dik, bapak ini dulunya pernah bertapa brata di kramat udang,” ujar pria yang jadi lawan bicara Poniman. Sesaat kemudian, kami pun menuju tempat kramat itu. “Kalau ini kita jamin dapat, Bapak sudah tahu tempatnya,” papar Pak Poniman selanjutnya. Kami memasuki kebun sawit dan disekitarnya juga ada ladang jagung. “Permisi ya Mbah, cucumu datang sama Mas wartawan. Kami ingin silaturrahmi,” tiba-tiba Poniman berkata dengan lantang. Serrrrr, tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri. Langit cerah tiba-tiba mendung. Mampus lah aku, rutuk saya dalam hati. “Haaa itu simpangnya, cepat sedikit Mas kita sudah sampai,” ujar Poniman bagai Jejaka yang ingin jumpa anak dara pujaan hatinya. Lain halnya dengan saya. Langit cerah tiba-tiba mendung, tentu ini ada sesuatu, diskusi saya dalam hati. “Bismillahirrahmanirrahim,” saya ucapkan kalimat itu dengan penuh ketawakkalan. Saya patrikan dalam hati, tujuan saya ketempat ini bukan bemaksud apa-apa. Bukan menghambat pembangunan bandara kuala namu, bukan untuk menggalakkan masalah klenik yang amat tipis dengan kesyirikan, tapi hanya menggali sisi-sisi gaib dari sederetan peristiwa yang kerap dialami pekerja maupun masyarakat kuala namu. Walaupun sekedar desas-desus tentang penampakan ganjil yang kerap terjadi, tapi bagi saya itu merupakan hal yang menarik untuk ditulis di rubrik ini. “Kita sudah sampai Mas. Inilah kramat Udang. Dan ini mau dipindahkan karena masuk ke dalam areal pembangunan bandara. Banyak dukun yang tak sanggup karena kekuatan gaibnya. Karena kekuatan terbesar kuala namu ada ditempat ini,” ujar Poniman kemudian sambil mulutnya berkomat kamit. Kramat Udang, sebuah makam tua yang amat diklenik manusia. Terlihat beberapa sesajen terletak di pusara itu, ada juga rokok dan bubur merah putih. Aromanya begitu menyesakkan dada. “Mengapa banyak kali bunga disini Pak,” tanya saya. “Inilah yang sering dilakukan orang. Kalau ada anggota keluarganya sakit, ingin melakukan hajatan, mau minta pelaris, cepat jodoh dan lain-lainnya mereka selalu ziarah kemari,” ujar Poniman. “Astaqfirullah. Mereka minta pada kuburan Pak ?” “Bukan Mas, kramat udang dijadikan perantara do’a agar cepat terkabul. Makanya banyak dukun yang segan untuk memindahkan tempat kramat ini,” imbuhnya kemudian. Lutut saya tiba-tiba lemas, gemetaran. “Kalau begitu Apa bapak bisa memindahkannya ?” Poniman tidak menjawab. Tapi lelaki itu menganggukkan kepalanya, tiga kali. “Izinkan Mbah kalau cucumu memindahkan kramat ini ?” kata Poniman sambil mengelus-ngelus nisan kuburan tua tanpa nama itu. Tak ada jawaban. Hening. Langit semakin hitam. Angin kian menderu menggonjang dedaunan. Akhhhhhh, maafkan, saya tak kuat lagi melanjutkan cerita ini kawan.

0 komentar:

Poskan Komentar